Sejauh ini, rasanya belum ada hal yang terlalu meyakinkan kita bahwa apa yang kita kerjakan di kampus tercinta ini mendapatkan tanggapan yang positif dari masyakat atau pasar kerja. Banyak orang hanya berharap bahwa apa yang kitalakukan di kampus, dapat dipublikasikan dengan baik oleh para petinggi kampus, dan bisa dipromosikan sebagai suatu bukti kepercayaan mereka terhadap anaknya sendiri.
Tapi seperti hal yang telah terjadi selama ini, kita sebagai “anak-anak” mereka tidak dipedulikan lagi baik sebagai penerus mereka, ujung tombak kampus mereka, apalagi kita sebagai angkatan pertama seharusnya mendapatkan porsi yang lebih dalam hal promosi talent. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan sampai tidak bisa meng-handle diri mereka sendiri untuk tidak terjerumus kedalam pergulatan “gengsi” dan “terlalu pintar”.
Apakah kita terlalu bodoh bagi mereka sehingga tidak ada langkah konkrit untuk menegaskan keberadaan kita? Atau kita hanya sebagai kelinci percobaan yang pantas mati jika mereka gagal? atau hanya sebatas karung-karung emas yang dengan mudahnya mereka menghabiskan isinya, lalu membuang karung itu ke dasar kegelapan?
Pernahkah kita berpikir tentang masa depan orang-orang yang tidak pernah berpikir krusial matematis tentang pengorbanan mereka di kampus? Mereka hanya datang dengan uang, tekad dan kepolosan, yang selanjutnya disedot semua kekayaannya sampai mereka tertegun dengan muka pucat pasi?
Pernahkah kita berpikir tentang orang-orang yang masuk kampus ini dengan tekad orang tua, adik-adik mereka, sanak saudara mereka yang sangat mengharapkan feedback yang positif bagi kampung halaman mereka?
Sepertinya lingkungan kampus ini belum siap dalam menerapkan kehidupan yang global dan terbuka. Sepertinya segala sesuatu di kampus ini masih sebatas pohon uang yang terus menerus ditebang, tanpa menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan menghargai kerja keras para “objek penderita”.
Sepertinya intimidasi ini akan berlanjut sampai kepuasan mereka habis dengan “terkaman harimau”, atau mere ka mati dengan “menelan lidah sendiri”.
Aku pilih tidak memperdulikan khalayak, dan beralih pada minoritas….
Bagaimana denganmu?
Filed under: informal-freek | Leave a Comment »